Jiwa yang Tertinggal di 2020

Daftar Isi
Halo semuanya! Gimana kabarnya nih? Hehe. Kayaknya beberapa hari terakhir ini hujan turun terus ya, awet banget lagi. Kalau sudah begini, bawaannya jadi teringat mantan... Eh, maksud saya, jadi pengen tidur sambil makan Indomie hangat di kamar. Kali ini saya lagi nggak terlalu banyak memantau market. Jujur saja, saya masih dalam fase mencoba move on dari peristiwa likuidasi terbesar sepanjang sejarah hidup saya di momen 10.10 tahun kemarin, wkwk. Ya, begitulah nasib... anak semuda ini sudah harus berkelahi dengan market yang sekeras itu.


Hari ini, seperti biasa, saya mencoba duduk diam dan berpikir tentang masa depan. Lumayan melelahkan juga sih, karena ternyata realita itu seringkali tidak seindah ekspektasi kita. Ingat nggak dulu waktu kecil? Kita punya cita-cita jadi pilot, polisi, dokter, bahkan astronot. Tapi setelah beranjak dewasa, rasanya semua cita-cita itu pupus entah ke mana, seakan-akan kita sedang "dihukum" oleh waktu.

Tapi ya, mengutip kata-kata yang sering kita dengar, "Kapan lagi kita berbincang dan berterus terang?" Hehe, bercanda– Sumpah ini prik banget wkwkwk sorry sorry. Maksud saya, saya mulai berusaha terbiasa dengan jalan hidup sekarang dan belajar menerima diri sendiri. Saya percaya hidup itu akan terus berjalan. Tugas kita cuma melakukan yang terbaik, sisanya? Ya serahkan saja pada Tuhan dan semesta.

Terjebak di Tahun 2020

Ada satu hal yang mengganjal di pikiran saya hari ini: kenapa ya, rasanya waktu dan jiwa kita itu seperti "nyangkut" di tahun 2020? Tahun di mana tiba-tiba kita harus sekolah online sampai lulus, dan tahun di mana game online lagi seru-serunya. Saat itu saya masih polos banget, belum tahu apa-apa. AI belum masif seperti sekarang, dunia masih transisi dari era normal ke era teknologi yang gila-gilaan.

Meskipun sudah lama lewat, saya masih ingat betul persis kejadiannya. Mulai dari pengumuman "libur dua minggu" yang ternyata kebablasan sampai lulus, majalah dan koran yang isinya cuma COVID, PSBB di mana-mana, sampai momen dipaksa ikut vaksin, wkwk.

Kalau kalian tanya, ada nggak hal yang paling berkesan di era COVID itu? Jawaban saya: ada dan nggak ada. Saya merasa era itu cuma seperti filler di sebuah film—ada, tapi terasa hampa. Di era itu juga saya sempat kecanduan game online sampai habis uang entah berapa. Kalau saja waktu bisa diputar balik atau di-reverse, saya nggak akan buang-buang uang lagi buat itu. Tapi ya sudahlah, nasi sudah jadi bubur.

Meskipun era itu sudah padam, saya rasa masih banyak orang yang sering bernostalgia dan merindukannya di balik segala tragedi yang ada. Ingat nggak waktu game-game papan (board games) versi online mendadak booming? Dan tentu saja, "Raja dari Segala Raja" yaitu Discord jadi sangat terkenal. Hampir semua orang, mulai dari anak sekolah sampai streamer, pasti pakai Discord. Saya sendiri sudah pakai sebelum COVID, tapi era itu memang nggak terlupakan. Nostalgia parah, sih!

Nah, kalau teman-teman sendiri punya cerita apa nih di era itu? Coba dong ceritain di kolom komentar, kali saja kita bisa diskusi atau bahkan jadi bahan bahasan untuk diary selanjutnya. Mungkin itu dulu untuk diary kali ini, sampai jumpa di tulisan berikutnya!


4 komentar

Rizkia
Rizkia
12 Januari 2026 pukul 23.38 Hapus
Emang iya sih, masa masa covid itu bikin kangen, kayak pengen balik ke masa itu tapi vibesnya bukan virusnya :(
Tegar
13 Januari 2026 pukul 00.04 Hapus
Ya pasti, bahkan banyak org pengen nostalgia wkwkwk. Makasih kak udah berkunjung hehe 🙏😅
Sindy
Sindy
13 Januari 2026 pukul 00.07 Hapus
Wahh menarik banget, jadi nostalgia ke 2020 an, btw boleh kali mutualan Ig nih kak tegar, biar bisa sharing-sharing nostalgia lagi 😔
Tegar
16 Januari 2026 pukul 00.00 Hapus
haha iya kak, boleh @ntegar52 follow aja ka, sorry baru bales wkwk baru buka laptop