Menolak Jadi Pion Pikiran

Daftar Isi

Pagi ini, saya hanya diam di kamar. Membiarkan pikiran melayang memikirkan masa depan yang rasanya tidak pernah ada habisnya. Untuk mengalihkan kepala yang bising, saya mulai membereskan beberapa pekerjaan rumah dan merapikan kasur.

"Hidup cuma sekali," kata teman-teman saya. Kalimat sederhana yang terus bergema. Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam hidup ini, walau jujur, saya masih sering meremehkan diri sendiri dan merasa takut pada bayangan diri saya di masa depan. Majalah Tempo terus berganti edisi setiap hari, membawa kabar dunia yang riuh. Di luar sana, mungkin ada saja orang yang ingin melihat saya jatuh atau patah semangat. Bahkan kadang, pikiran saya sendiri yang melakukan itu.

Hari ini saya memilih tidak ke mana-mana. Hanya berada di kamar, melahap riset, dan mencari tahu hal-hal baru. Ada rasa gundah yang mengendap, seperti bingung harus melangkah ke mana. Tapi hari ini saya putar lagu Ora Urus—buat seru-seruan saja. Saya sudah cukup capek melankolis terus belakangan ini, wkwkwk.

Entah apa sebenarnya yang sedang menumpuk di kepala, tapi saya mencoba untuk berpikir lebih jernih. Saya memutar ulang semua kenangan terbaik yang pernah ada. Dan ternyata... saya tidak seburuk itu. Saya sudah hebat. Sudah begitu banyak hal berat yang berhasil saya lalui. Jika di luar sana ada orang yang tidak suka atau membenci saya, ya sudah, saya tidak peduli lagi.

Perlahan tapi pasti, saya mulai berdamai dengan keadaan. Bukan cuma sekali, tapi berulang kali. Saya menyadari bahwa saya sudah berproses dan melakukan aktualisasi diri berkali-kali dalam hidup ini, walau itu semua bukan tentang uang.

Saat sesekali keluar rumah, saya memperhatikan sudut-sudut jalan. Saya melihat banyak wajah murung berlalu-lalang dengan beban masalahnya masing-masing. Begitu banyak pion yang dilempar ke sana-sini di antah-berantah, padahal tujuannya sama. Saya cuma berharap, kamu dan saya kelak tidak pernah mau menjadi pion. Apalagi menjadi pion atas pikiran kita sendiri. Amit-amit, jangan sampai.

Tapi bagaimanapun, kita hanyalah manusia biasa yang suatu saat pasti akan meninggal. Jadi, nikmatilah hidup ini sebaik mungkin.

Tegar di sini. Pamit untuk sementara waktu.

Terima kasih sudah mau membaca curahan isi hati yang acak-acakan ini.

Posting Komentar