Tertahan Di Kaca Gerbong

Daftar Isi

Di sebuah sudut kota, saya menatap layar informasi di dalam kereta. Saya sedang berada di Stasiun Gondangdia, menunggu antrean masuk ke Stasiun Juanda. Rencananya, saya ingin mencari pelarian sejenak ke Masjid Istiqlal.

Hari ini saya merasa cukup bahagia, ya walau ada sedikit rasa dag-dig-dug-ser di dada. Saya berusaha untuk tetap berpikir se-rasional mungkin. Mungkin saya memang agak aneh, tapi saya mencoba untuk tenang. Saya hanya memasang satu earphone di telinga, karena saya masih ingin mendengar suara-suara di sekeliling saya.

Jujur, overthinking itu masih terus ada. Tapi melewati jalur kereta ini dan melihat pemandangan jalanan di bawah sana sudah jadi makanan sehari-hari—entah sudah berapa puluh kali saya melintas di sini. Saya benar-benar tidak tahu bagaimana hidup saya ke depannya. Saya cuma berusaha tetap waras, meski mental ini rasanya sering kali kena hantam.

Kadang ada rasa insecure melihat teman-teman yang rasanya sudah "menjadi seseorang" dan memiliki segalanya, sementara saya merasa masih begini-begini saja.

Hari ini sebenarnya tidak berantakan, tapi tidak bisa dibilang rapi juga. Hentikan drama berulang soal terapi atau psikolog—toh saya juga tidak pernah ke sana. Dari balik jendela, gedung-gedung tinggi menjulang gagah. Saya memperhatikannya dengan lekat. Ketika api semangat dalam diri rasanya sempat padam dan hidup terasa runtuh, saya tahu ini belum akhir dari segalanya.

Kereta terhenti cukup lama di sini. Dari jendela, terlihat rerindangan pohon yang tampak sepoi-sepoi—lucunya, saya tidak bisa merasakan anginnya karena tertahan di dalam gerbong.

Perihal hari esok, biar jadi urusan nanti dulu. Saya belum siap memikirkannya sekarang. Notifikasi Threads terpampang jelas di layar HP, menampilkan orang-orang yang sibuk pamer gaji. Saya pilih cuek. Wong saya sendiri saja belum tahu besok mau bagaimana.

Perangai hidup memang tidak akan pernah berakhir—ia baru benar-benar selesai ketika kita sudah mati.

Jadi, biarkan kereta ini terhenti sejenak. Tulisan ini saya akhiri dulu.

Terima kasih semuanya, saya masih hidup. Santai saja.

Posting Komentar